Diary Jalan Jalan: Part 1, Belitong Island

Couple SunsetAkhir akir ini, saya memang jarang mengupdate blog. “Akhir gundulmu peyang mas!”, celetuk salah satu penggemar saya. Oke oke, akhir setahun ini kamsudnya. Puas sudah?

Ya, memang saya jarang mengupdate blog. Bukannya nda punya bahan buat ditulis, tapi lagi lagi, karena kesibukan berbakti kepada bangsa dan negara, draft tulisan saya selalu hanya setengah jadi. “Setengah jadi gundulmu putra petir, mas!”, teriak salah satu penggemar saya yang lain. Oke oke, seperlima jadi kalo begitu. Ribut saja kalian.

Sementara kita kesampingkan saja dulu pertikaian antara saya dan penggemar penggemar saya di atas. Tulisan kali ini hanyalah sekedar catatan perjalanan saia belakangan ini, bukan sesuatu yang rumit untuk dipahami, kok.

Entah kenapa, semenjak saia berteman dengan tiga orang siluman, sebut sahaja mereka siluman babi, siluman keledai, dan siluman kera, saya jadi banyak menghabiskan waktu weekend saya di luar jakarta. Bukan kenapa kenapa, ketiga siluman tersebut selalu merengek rengek supaya saya menemani mereka dalam perjalanan ke utara untuk mencari kitab suci. Alhasil saya terpaksa bertindak sebagai biksu tong. Bukan tong sampah tentunya, tetapi biksu yang menengahi pertikaian mereka selama perjalanan kebarat, eh keutara. Sumpah, bukannya saya sengaja, tapi karena paling tampan, jadinya saya yang jadi biksunya.

Akhirnya nyerah juga nulis pake boso linggis

Akhirnya saia menyerah. Daripada dibilang g nasionalis mendingan saia nulis blog pake mode billing ual aja deh. Maksudnya klo lagi pengen nulis pake boso linggis, ya tak tulis pake boso linggis, klo pengen make bahasa indon (katanya orang2 malingsia), ya make bahasa indon.

Sebenernya ngga ada yang penting yang mau kuceritain sih. Tapi berhubung blog nya udah vakum berhari hari (atau berminggu minggu?), tetap harus ada yang ditulils. Tul nda? Keinget juga si, kata katanya seseorang (entah siapa, lupa, ada yang tahu?) yang bilang kalo “Sampaikanlah, walau hanya satu ayat”. Mangkanya, karena itu saia sampaikan, walau hanya satu ayat.

Kemaren saia sempat sakit 1 minggu. G enak pek, sakit tu, yaqin, g direkomendasikan wis. Karena tempat saya training tidak bisa memberikan ijin sakit loyalitas saia pada perusahaan sangat tinggi, saia paksakan untuk masuk training. Kronologisnya begini. Duh sek gatel, tak kukur kukur dulu.

Tanggal 29 Feb, karena di kosan g ada mainan (baca: komputer), akhirnya kuputuskan untuk menempuh perjalanan panjang sejauh jarak antara mipa selatan dengan parsley di jakal. Sebenernya bisa aja naek metromini, yang full AC (Angin Cendela) dan full Music (bob marley ala blok m), tapi gara garanya saia lagi pengen olahraga (baca: pengen ngirit), akhirnya diputuskan untuk menempuh perjalanan mencari kitab suci hiburan malam dengan berjalan kaki.