Diary Jalan Jalan: Part 1, Belitong Island

Couple SunsetAkhir akir ini, saya memang jarang mengupdate blog. “Akhir gundulmu peyang mas!”, celetuk salah satu penggemar saya. Oke oke, akhir setahun ini kamsudnya. Puas sudah?

Ya, memang saya jarang mengupdate blog. Bukannya nda punya bahan buat ditulis, tapi lagi lagi, karena kesibukan berbakti kepada bangsa dan negara, draft tulisan saya selalu hanya setengah jadi. “Setengah jadi gundulmu putra petir, mas!”, teriak salah satu penggemar saya yang lain. Oke oke, seperlima jadi kalo begitu. Ribut saja kalian.

Sementara kita kesampingkan saja dulu pertikaian antara saya dan penggemar penggemar saya di atas. Tulisan kali ini hanyalah sekedar catatan perjalanan saia belakangan ini, bukan sesuatu yang rumit untuk dipahami, kok.

Entah kenapa, semenjak saia berteman dengan tiga orang siluman, sebut sahaja mereka siluman babi, siluman keledai, dan siluman kera, saya jadi banyak menghabiskan waktu weekend saya di luar jakarta. Bukan kenapa kenapa, ketiga siluman tersebut selalu merengek rengek supaya saya menemani mereka dalam perjalanan ke utara untuk mencari kitab suci. Alhasil saya terpaksa bertindak sebagai biksu tong. Bukan tong sampah tentunya, tetapi biksu yang menengahi pertikaian mereka selama perjalanan kebarat, eh keutara. Sumpah, bukannya saya sengaja, tapi karena paling tampan, jadinya saya yang jadi biksunya.

Singkat cerita, di awal bulan september, siluman babi tiba tiba menjadi galau. Bukan hal yang aneh, mengingat begitulah derita cinta siluman babi, yang sedari dulu kita tahu kalau deritanya tiada akhir. Awalnya siluman babi mengajak teman temannya sesama siluman untuk jalan jalan ke gunung bromo. Tetapi apa daya, akibat tiket pesawat, eh maksud saya sewa kuda, mahal, akhirnya dialihkanlah perjalanan suci ini ke tempat lain. Pilihan kita jatuh ke Belitong, pulau di sebelah timur pulau bangka, tempat kelahiran wakil gubernur DKI yang sekarang ini.

Kebetulan sewaktu mencari tiket pesa.., eh sewa kuda ke belitong, ada open trip di kaskus. Buat yang belum tau kaskus, itu adalah tempat jual beli jin paling populer di Indonesia. Bahkan ada jin pascabayarnya sekarang, pakai dulu baru bayar. Segeralah kami menghubungi mbak Rani Patinassarani, eh maaf, mbak Rani saja maksudnya, yang menjadi EO open trip ke belitong kali ini.

Buat yang belum tahu, open trip itu adalah trip gabungan dari orang-orang grup kecil (dan siluman) yang mau jalan-jalan bareng supaya ongkos produksi bisa lebih murah. Lumayan lah, trip 2 hari 2 malam cukup merogoh kocek 750 ribu rupiah, all included.

Iklan:
Link nya ada di: sini, kalo tertarik bisa menghubungi mbak Rani nya langsung ya, ada kontaknya disana. Royaltinya jangan lupa mbak Rani, saya sudah promosi EO ente di blog saya loooooh :-*

Seperti biasa, awalnya hanya saya dan siluman babi yang akan berangkat. Tujuan saya ikut sebenernya supaya siluman babi tidak bunuh diri di pulau kelahirannya. Menurut al-kisah, di daerah belitung terdapat pulau yang dinamakan pulau babi. Siluman babi sepertinya sekalian pulang kampung kesana. Takutnya karena derita cintanya yang tiada akhir, justru dia nanti bunuh diri di pulau kelahirannya. Bakal susah saya nanti, sudah utang dia ke saya belum lunas, masih harus jadi saksi bunuh diri di kantor polisi nanti. Nyahahahahaha.

Akhirnya last minute, siluman kera memutuskan untuk bergabung dengan kami untuk perjalanan mencari kitab suci. Maklum, solidaritasnya sangat tinggi sesama teman. Takutnya kalo cuman berdua kita malah ga jadi mencari kitab suci nantinya. Untungnya masih ada slot satu di tempatnya mbak Rani, dan juga tiket pesawa.., eh sewa kuda masih available.

Oiya, kalau anda ingin ke belitung, jangan salah sewa kuda, eh pesan tiket pesawat. Bandaranya namanya Tanjung Pandan (TJQ), bukan pangkal pinang, apalagi adi sucipto.

Berikut catatan perjalanan kami ke barat:

Day 1: Sabtu, 7 Sept 2013
Subuh – 07.00 : Perjalanan Jakarta – Tj.Pandan naek kuda terbang
07.30 – 09.00 : Check in + sarapan di homestay
09.00 – 10.00 : Perjalanan ke Vihara Dewi Kuan Im

10.00 – 11.00 : Explore Vihara Dewi Kuan Im
11.00 – 12.00 : Explore Pantai Burung Mandi
13.00 – 14.00 : Makan Gangan (makanan khas Belitong)
15.00 – 16.00 : Explore Pantai Lalang
17.00 – 18.00 : Explore SD Laskar Pelangi dan Museum Kata Andrea Hirata
20.00 – 21.00 : Makan malam di mie atep (mie khas belitong)
21.00  – 23.00 : Ngopi sambil nonton dangdut di dekat penginapan

Hari pertama jelas kami habiskan hampir dengan uapan sepanjang perjalanan (baca: menguap, angop bahasa linggisnya). Jelas doong, berhubung takut ketinggalan pesa, eh maksudnya kita rajin beribadah sampe pagi, jadinya ga sempat tidur. Alhasil saya dan siluman babi berangkat pukul 02.30 sambil menjemput siluman kera di tempat pertapaannya. Pukul 05.00 kami sampai di bandara CGK tempat menunggu kuda terbang mengantar kami ke Belitung. Sesampainya di belitung baru kami mencari rombongannya mbak Rani.

Kesan pertama di belitung adalah, kotanya kecil. Kemana mana masih sepi. Jalan menuju tempat wisata masih halus sekali, bisa buat balapan drift kalau mau. Perjalanan ke penginapan butuh waktu sekitar 30 menit. Sesampainya di penginapan check in dan sarapan. Biasanya mbak Rani itu EO backpacker, tapi tumben kali ini penginapannya semi backpakcer. Kayaknya sih gara gara saya yang tampan ini ikut join belitung, jadi dicariin penginapan yang mewah untuk ukuran backpacker. Satu kamar diisi dua-tiga orang. Berhubung saya harus menjaga supaya siluman babi dan siluman kera tidak saling bertengkar, alhasil kami tidur di satu kamar. Sembari sarapan, kami bersosialisasi dengan temen temen baru. Ternyata semua sudah veteran jalan jalan, wow. Sedikit chit-chat dan rombongan dibagi ke dua mobil isuzu elf.

Setelah sarapan, kami langsung menuju ke vihara dewi kuan im di belitung timur. Berhubung ini perjalanan mencari kitab suci, tentu saja wajib bagi kami untuk berkunjung minum tehs sekalian minta berkah di kediaman dewi Kuan Im. By the way busway, jikalau kalian berkunjung ke kediaman dewi kuan im, bisa minta dilamar eh diramal loooh. Tentu saja nda gratis, dan belum tentu ramalannya tepat. Berhubung kami sudah fasih dalam hal ramal meramal (baca: siluman babi sudah jelas derita cintanya tiada akhir dan siluman kera sudah jelas dihukum sama khayangan karena nakal), kami memilih untuk ngopi sambil menikmati kelapa muda disana. Tentu saja setelah bertemu sama Dewi Kuan Im.

Entah kenapa, kami banyak bergaul dengan Tommy dan Nina, pasangan model dan fotografer profesional dalam perjalanan ini. Selain itu kami juga cocok ngobrol sama mbak Tristy dan kawan kawannya, dosen ENHAI di bandung yang jelas mahasiswinya lebih cantik dari dosennya. Nyahahahaha. Setelah mengunjungi Dewi Kuan Im, kami beranjak ke pantai burung mandi. Katanya sih banyak burung yang mandi disana. Kami sih jelas nda tertarik, ngapain liat burung mandi, memangnya kami gay? Untungnya kami nda nemuin burung lagi mandi waktu disana. Nyahahaha. Setelah dari pantai burung mandi, kami menuju ke tempat makan ikan. Katanya sih yang khas ikan dimasak gangnam style. Jadi tahu kalo ternyata world hits nya orang kroya, gangnam style itu berasal dari belitung. Indonesia memang keren, kawan!

Setelah mengenyangkan perut dan empunya perut, kami menuju ke pantai Lalang. Disini sih nggak terlalu menarik, biasa saja pantainya. Tanpa menghabiskan banyak waktu lagi, kami menuju ke SD laskar pelangi dan museum kata andrea hirata. Kami disana sampai menjelang magrib. Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Sayangnya ini belitung, bukan yogyakarta. Disertai hujan dan angin kencang, kami pulang ke kota. Sesampainya di kota kami menuju ke mie atep, mie khas belitung. Kabarnya sih belum ke belitung kalau belum makan mie ini. Mie nya sih enak, tapi porsinya sedikit sekali. Harus nambah kalau mau kenyang :D

Kami sampai di hotel lagi sekitar pukul 21.30. Sehabis mandi saya, siluman babi, siluman kera, dan mas Tomy Nurseta, sang fotografer profesional (royaltinya lho mas, tak promosiin gratis nih, nyahahahah) ngopi ngopi di tempat ngopi dekat penginapan. Banyak hal kita sharing disana, itulah kenapa saya suka nongkrong di tempat ngopi, walopun ga terlalu suka ngopi. Karena disana banyak ilmu bisa kita dapat, sharing dengan orang orang baru dan membuka wawasan baru.

Day 2: Minggu, 8 Sept 2013
07.00 – 09.00 : Explore Pantai Kelayang
10.00 – 15.00 : Explore Pulau Burung, Pulau Lengkuas (naik mercusuar), snorkling, Pulau Kepayang, Pulau Pasir
16.00 – 19.00 : Hunting sunset di tanjung tinggi
20.00 – 21.00 : Makan Seafoood di kota

Di hari kedua ini kita menghabiskan waktu di laut dan pantai. “Ini baru belitong, bung!” teriak siluman kera. Wajar, kami agak kecewa karena hari pertama di belitong rasanya hanya dihabiskan di jalan sahaja. Terlepas dari insiden kecil di pagi hari, dimana siluman kera dan siluman babi yang mandinya terlalu lama sehingga membuat saya terlambat mandi, kami bisa sampai di pelabuhan tepat waktu.

Di pantai kelayang kami menuju gugusan pulau pulau di sekitar belitung. Ada pulau pasir, yang jika pantai pasang hilang pulaunya. Ada juga pulau lengkuas dengan mercusuarnya. Ada juga pulau kepayang yang berisi batu batu. Tidak lupa juga snorkeling. Kata orang, picture worth more that tousand words, karena itu langsung lihat saja foto foto dibawah ini untuk melihat keindahan belitung. Satu kata, puas. Puas, ini baru namanya belitung.

Selesai explore gugusan pulau, kami ke pulau tanjung tinggi untuk mengejar sunset. Dapat satu sunsetnya, uhuii.. Pulang ke penginapan sambil mampir makan mewah, kepiting goreng telor. Unforgetable day lah pokoknya.

Day 3: Senin, 9 Sept 2013
06:00 – 09:00 : Perjalanan ke jakarta menggunakan kuda terbang

Dengan tidak sempat mandi, kami akhiri perjalanan mencari kitab suci kali ini. Capek tapi banyak pengalaman dan teman baru disini. Worthed pergi ke belitungnya. Cukup merogoh kocek setara tiket jakarta-tanjung pandan dan 750 ribu rupiah. Berhubung nda ketemu kitab sucinya, nanti kita lanjutkan lagi di catatan perjalanan selanjutnya, karena hidup ini adalah perjalanan tanpa henti. Bravo!

Sharing is caring :)

5 thoughts on “Diary Jalan Jalan: Part 1, Belitong Island

  1. While we Side just before a dispute between me and my fans for fans. The writing was mainly a mere narrative Cyst anyway, not something complicated to understand, yes. – YORHealth

Leave a Reply to Osmond Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>